Masa Depan Islam Moderat

No comment 248 views

DALAM forum initiative dan masa depan menuju visi Arab Saudi 2030 Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman, dalam statementnya “Kami sedang kembali ke wajah kami sebelumnya-sebuah negara Islam yang moderat, yang terbuka bagi semua agama, tradisi, dan warga seluruh dunia”(Kompas, 28/10). Trobosan diluar kebiasaan ini menjadi perhatian masyarakat global, ditengah masif nya gerakan radikalisasi agama dan aksi terorisme, yang ditengarai bersumber pada ideologi wahabisme yang terbagi menjadi dua yakni puritan dan takfiri. 

Indonesia sebagai negara yang penduduknya mayoritas muslim terbesar di dunia telah jauh-jauh hari melalui organisasi massa terbesar yakni NU (Nahdlatul Ulama) melalui gerakan Islam Nusantara dan Muhammadiyah dengan Islam berkemajuan. Upaya NU dan Muhammadiyah sebagai ormas yang memiliki basis massa terbesar memiliki tangung jawab besar untuk memposisikan Islam sebagai sebuah titik pijakan awal dalam konsepsi kehidupan berbangsa dan bernegara baik pada amaliyah keseharian maupun dalam bernegara. 

Konferensi Ulama Internasional yang digelar di Pekalongan pada 27-29 Juli 2016, yang mengambil tema Bela Negara, Konsep dan Urgensinya dalam Islam, adalah ikhtiar kongrit yang dilakukan oleh para ulama pada saat itu untuk membumikan Islam rahmatan lil alamin sebagai konsepsi dalam bernegara dan berkehidupan. Dengan mengundang perwakilan 59 ulama dari seluruh dunia seolah-olah Habib Luthfi ingin menegaskan bahwa Islam di Indonesia (Islam Nusantara) memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya berada pada tradisi keIslaman di indonesia yang mampu berkolaborasi dengan kebudayaan lokal (local wisdom). 

Namun demikian, persoalan terbesar yang saat ini dihadapi masyarakat muslim dunia adalah upaya radikalisasi agama, dan terorisme yang semakin meresahkan. Laporan yang direlease oleh Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) jumlah pengikut ISIS diperkirakan berjumlah 20.000 hingga 31.500 orang. Bahkan menurut informasi yang disampaikan oleh Kepala staff Presiden Kurdistan Fuad Hussein kepada The Independent (18/11), jumlah pengikut ISIS pada tahun 2015 telah menembus 200.000 orang. Tentu hal ini meresahkan dunia Islam secara global, image yang dibangun bahwa Islam sebagai agama yang toleran dan damai serta merta kotor dengan tindakan sekelompok orang yang berwawasan sempit dalam sudut pandang Islam sebatas kekuasaan dan politis semata.

Islam Motor Pengerak Peradaban

Pada tahun 2015, Lembaga riset terkemuka Pew Research Center mempublikasi hasil surveinya, diproyeksikan pada tahun 2070 mendatang, agama Islam akan menjadi agama dengan pemeluk terbesar di dunia. Saat itu pemeluk agama Islam melampaui tak hanya agama Kristen namun juga melebihi populasi mereka yang tak percaya agama Karena Muslim akan menjadi mayoritas di dunia, dengan sendirinya baik dan buruk peradaban Islam akan semakin mempengaruhi peradaban dunia (Denny JA, 2016).

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar memiliki andil besar dalam menentukan arah perjalanan peradaban dunia. Sebagai motor pengerak peradaban konsepsi Islam Nusantara dan Islam berkemajuan yang didorong oleh NU dan Muhammadiyah memiliki peran yang sangat strategis, ditambah dengan mesir yang dimotori oleh Al Azhar melalui gerakan pembaharuan pemikiran keagamaan (tajhid al khithab al-dini) serta komitmen Arab Saudi untuk kembali pada Islam moderat. Setidaknya, Indonesia tidak sendirian dalam membangun upaya membangun peradaban Islam yang rahmatan lil alamin.

Dalam konteks pembangunan peradaban, Rasululloh telah meletakkan fondasi dasar melalui pembangunan ahlaq dan kepribadian. Dalam konteks negara bangsa, Piagam Madinah yang disusun pada masa Rasululloh sudah jelas-jelas memberikan cerminan terhadap metode pergaulan dalam berbangsa dan bermasyarakat. Perbedaan-perbedaan yang muncul dalam konteks kesukuan dan keagamaan difasilitasi dalam sebuah kesepakatan perdamaian dan hidup rukun dalam berdampingan sebagaimana bunyi pasal 25 dalam piagam madinah “Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf adalah satu umat dengan mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kaum muslimin agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri, kecuali bagi yang zalim dan jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarga”. 

Pada abad pertengahan 650-1250 Masehi Dunia Islam pernah mencapai puncak kegemilangan dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang pesat sehingga melahirkan peradaban yang bernilai tinggi. Hal itu disebabkan oleh dorongan internal dan eksternal. Konsepsi Iqro’ memberikan jalan kepada umat Islam untuk memberikan perhatian serius terhadap pengembangan ilmu pengetahuan termasuk riset-riset. Dorongan eksternal berasal dari komitmen penguasa pada masa itu untuk mefasilitasi perkembangan ilmu pengetahuan melalui ketersediaan buku-buku di perpustakaan yang memadai, sistem pendidikan yang integral dan dinamis serta perhatian secara serius terhadap para ilmuan dengan menghargai setiap temuan dengan harga yang tinggi (Suryanta, 2011).

Sebut saja Filsuf Al Kindi dan Al Farabi adalah seorang salah satu deretan ilmuan berpengaruh pada masa itu, karya-karyanya banyak disalin oleh ilmuan Barat, Seperti Aristoteles yang buku-bukunya kemudian di salin oleh St Agustine (354-430) yang kemudian dikembangkan oleh Anicius Boethius (480-524) dan Jhon Scotus, kedati karya-karya tersebut dimusnahkan bersamaan dengan eksekusi mati Boethius, oleh pemerintahan Romawi, karena dianggap telah menyebarkan ajaran yang dilarang negara (Haerudin, 2008).

Islam dan perkembangan dunia Barat kerap mengalami benturan pada titik konsepsi pelaksanaan ideologi. Dunia Barat yang mengusung liberalisme lebih mengedepankan hak-hak individual mengesampingkan peranan agama dalam ruang publik, dan agama dianggap domain individual (private). Demikian sebaliknya, konsepsi Islam tidak hanya mengatur kehidupan individu saja namun juga nilai-nilai dalam dalam ruang publik dimana pengaturan nilai-nilai didalamnya berupaya mengatur sebaik mungkin hubungan individu satu dengan individu lainnya.

Titik temu antara peradaban Barat dan Islam berada pada penghargaan atas hak-hak individu (hak asasi manusia). Pada tingkatan aplikatifnya, Indonesia dapat menjadi contoh pelaksanaan Islam yang rahmatan lil alamin. Meskipun masyarakat Indonesia ini beragam dari sisi budaya, agama, suku dan ras, namun tetap bisa hidup berdampingan antara satu dengan yang lainnya. Kendati Islam adalah agama mayoritas penduduk indonesia, namun Islam yang ada di Indonesia mampu berdampingan dan saling bekerjasama.

Dengan demikian, bukan suatu hal yang mustahil jika dimasa yang akan datang, kebangkitan Islam dalam konstribusinya terhadap perkembangan peradaban dunia modern akan benar-benar terjadi. Konstribusi itu akan mampu mengiringi perubahan jaman manakala komitmen Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin dimaknai secara kontekstual bukan sekedar tekstual semata. Islam tidak hanya terdiri dari hukum-hukum (syariat) yang mengatur kehidupan dan pergaulan masyarakat, namun lebih dari itu, ahlaq dan budi pekerti yang diajarkan oleh agama Islam mampu memberikan kesejukan dan mendorong pergerakan peradaban. 

*Penulis adalah Tokoh NU Sumsel dan bakal calon wakil walikota Palembang

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Masa Depan Islam Moderat"