Idul Fitri: Fitrah dan Membangun Ukhuwah

No comment 42 views

Oleh: Hernoe Roesprijadji, SIP 

Perayaan Idul Fitri di Indonesia telah menjadi budaya. Tradisi silaturahmi, pulang kampung, dan anjangsana (berkunjung kesanak saudara) telah berlangsung sekian lama, hingga segenap komponen; masyarakat, pemerintah, dan pihak-pihak yang terkait merasa perlu membuat persiapan yang baik guna menjamin pelaksanaannya dapat berlangsung sukses dan tidak ada kendala sedikitpun.

Selain sebagai sebuah tradisi, perayaan Idul Fitri juga hendaknya kita jadikan sebagai sebuah momentum untuk membangun ukhuwah antar umat baik itu dalam skala kecil (keluarga), masyarakat, maupun sebagai sebuah bangsa. Terlebih lagi, seminggu sebelum pelaksanaan ibadah puasa ramadhan yang lalu kita sempat diteror dengan rangkaian bom bunuh diri yang terjadi disejumlah daerah. Tentu luka ini masih begitu segar dan mengagah, dan masih menjadi trauma bagi masyarakat. Namun demikian, meski aksi teror bom bunuh diri tersebut sering di klaim para pelaku sebagai aksi jihad, namun bagi seluruh umat muslim sepakat bahwa kekejian yang mereka lakukan adalah perbuatan yang jauh dari ajaran islam dan dilakukan orang-orang (kelompok) khawarij (orang-orang yang keluar dari islam).

Tahun 2018 ini sebagai tahun politik, dimana penyelenggaraan Pilkada serentak digelar di 171 daerah dan persiapan jelang Pilpres dan Pileg 2019 mendatang. Tentu guna memenangkan sebuah pertarungan politik berbagai strategi digunakan untuk memperoleh dukungan dari masyarakat sekaligus menggerus dukungan lawan yang salah satunya adalah perang hoax. Perang hoax (berita bohong) yang saat ini tengah deras beredar ditengah-tengah masyarakat telah mencapai kondisi yang meresahkan. Berbagai agenda baik itu politik maupun tujuan untuk memecah belah masyarakat terus-menerus diproduksi untuk membuat situasi tidak menentu. Tentu hal ini tidak bisa dibenarkan dalam sudut pandang manapun, kendati bagi sebagian orang dianggap sebagai sebuah strategi memenangkan pertarungan dalam hal apapun juga karena kepentingan menjaga kerukunan berbangsa dan bernegara menjadi hal terpenting diatas kepentingan manapun juga.

Menuju Fitrah

Perang Badar (13 Maret 624 M) yang bertepatan pada 17 Ramadhan 2 Hijriyah adalah perang pertama umat Islam melawan kaum Quraisy dari mekkah dengan jumlah pasukan yang tidak imbang, dengan 313 orang melawan 1000 orang dari pihak lawan, dan setelah bertempur habis-habisan setelah 2 jam pasukan muslimin mampu memporak-porandakan serta menghancurkan pertahanan pasukan lawan kemudian memaksa mundur dalam kekacauan.

Sepulang dari perang tersebut, Rasulullah SAW Mengatakan kepada para sahabat “Kita kembali dari peperangan kecil dan akan menghadapi peperangan besar (Jihad Akbar)”. Diantara sahabat ada yang bertanya, “apakah ada lagi perang yang lebih besar dan dahsyat dari perang Badar?” Beliau menjawab. “Perang melawan hawa nafsu di dalam diri masing-masing” (Riwayat Al Baihaqi). Perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadhan tersebut mensyiratkan makna bahwa ibadah puasa di bulan ramadhan adalah bentuk atau bagian memerangi hawa nafsu itu sendiri. Dan Idul fitri adalah puncak dari pencapaian seseorang mencapai derajat takwa sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al Baraqarah ayat 183 yang berbunyi, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa. Kemudian setelah kita selesai menjalankan ibadah puasa ramadhan kita diumpakan seperti bayi yang baru lahir bersih suci tanpa dosa (fitri batiniyah).

Selesainya menjalankan ibadah puasa kita telah kembali kepada “Fitrah”, kepada kesucian, sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Rum, ayat 30 “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah pada) fitrah Allah yang telah menjadikan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. Fitrah atau kesucian asal manusia merupakan pemberian khusus Allah kepada manusia; fitrah merupakan unsur lahut (ketuhanan) yang diberikan kepada manusia. Tetapi dalam perjalanan hidupnya sehari-hari, unsur lahut yang maha suci itu terkotori berbagai perbuatan manusia itu sendiri yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu, ibadah puasa dan ibadah-ibadah lain, pada intinya bertujuan agar manusia menjadi suci kembali, sehingga pada hari raya `Id al-Fitri ini pantas merayakan kembalinya fitrah atau kesucian (Azzumardi Azra, khutbah idul fitri 1438 H)

Membangun Ukhuwah

Idul Fitri merupakan puncak dari ibadah puasa ramadhan, maka momentum yang tidak kalah penting adalah budaya silaturahmi, budaya saling memaafkan. Idul Fitri harus dimanfaatkan untuk menjalin ukhuwah dan menyatukan kembali seluruh umat muslim pada khususnya dan masyarakat dalam bingkai sebuah bangsa. Saling memaafkan dan memberikan maaf saat ini telah menjadi kebutuhan mendesak. Ironi yang terjadi saat ini ditengah era reformasi dan kebebasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara mendorong konflik politik dan sosial terus berkelanjutan, hingga memperpanjang krisis multi dimensi hingga saat ini. Krisis sosial dan politik yang terjadi saat ini telah membuat berbagai kelompok masyarakat berdiri berhadap-hadapan dan terpecah belah akibat ulah sekelompok orang dengan berbagai kepentingan.

Kini atas nama kebebasan dengan didukung canggihnya teknologi komunikasi dan informasi telah membuka ruang-ruang kebebasan baru dan membuat semakin masifnya beredarnya berbagai propaganda dan berita palsu/bohong (hoax) dengan sedikit menyajikan informasi fakta dan minus tabayun. Berbagai kelompok masyarakat terlibat konflik saling hujat, saling berpasangka, dan saling mencari kesalahan satu dengan lainnya. Padahal Al Quran telah jelas-jelas secara tegas melarang hal yang demikian, sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik daripada wanita (yang mengolok-olok), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu saling memanggil dengan julukan-julukan yang buruk. Seburuk-buruk julukan ialah (julukan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka adalah orang-orang yang zalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (al-Hujurat 49:11-12).

Sebagai bangsa yang telah ditakdirkan dalam sebuah keberagaman, perbedaan suku, agama, ras, dan berbagai perbedaan dalam konteks dimensi lainnya, seharusnya menjadi rahmat. Keberagaman yang kita miliki saat ini bukan menjadikan bangsa ini terpecah belah, namun telah mejadi tongak dasar membangun kesatuan dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Rasululloh sendiri telah mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah hambatan dalam membangun peradaban umat manusia. Melalui Piagam Madinah Rasulullah Muhammad SAW telah meletakkan fondasi dasar bagaiamana cara membangun kerukunan umat dalam sebuah bingkai kebangsaan (masyarakat madinah) dan membangun toleransi antar golongan masyarakat. Perbedaan keyakinan bukan menjadi penghalang dalam menjalin ukhuwah antara umat sebagai insan.

Semoga Puasa kita pada bulan Ramadhan 1439 H mampu menjadikan kita menjadi insan yang memiki derajat taqwa dan puncak dari pelaksanaan Idul Fitri tidak hanya sekedar menjalankan tradisi tahunan, namun lebih dari itu adalah membangun ukhuwah baik itu islamiyah, insaniyah, maupun wathaniyah. Dengan demikian derajat taqwa itu memberikan jaminan kepada kita untuk menjadi pribadi yang Fitrah. Wallahualam bissawaf.

Penulis adalah Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatra Selatan, dan Calon Wakil Walikota Palembang 2018-2023

Email Autoresponder indonesia
author
No Response

Leave a reply "Idul Fitri: Fitrah dan Membangun Ukhuwah"